Skip to main content

Posts

Showing posts with the label sastra

Sedikit Cerita yang Tak Sengaja Teringat

hei. Saya tidak sengaja melihat foto bertiga. Lalu rindu menyeruak. Saya tertawa, mengingat pernah ada sesuatu yang bernama 'kita'. Tiga manusia yang tadinya begitu dekat, kini hanya terbagi menjadi dua-dua dan tiada. Kamu dia. Saya dia. Dan tak ada kamu saya. Tidak. Saya tidak menyesalinya sama sekali. Tak guna pula sesalnya. Hanya sedikit rindu. Akan kebersamaan kita bertiga. Bukan tentang saya dan kamu, karena saya dan dia adalah kompilasi yang bisa dibilang sempurna. Kemarin adalah Lebaran kedua, Ulang tahunnya yang kedua, ulang tahun saya kedua dan ulang tahunmu kedua ketika kita sudah saling mengenal. Tahun sebelumnya, kita mencari hadiah untuknya, aku dan dia mencari sesuatu untukmu. Aku dan kamu merencanakan kejutan di hari lahirnya, dan aku dan dia membuat sesuatu di hari lahirmu. Lucu. Ketika kusadar, tahun ini. Hanya aku dan dia. Aku bahagia, sungguh. Apalagi yang bisa aku minta. Sebuah cerita sederhana yang sangat dapat dinikmati. Tawanya. Candanya. Cerianya. Maupun...

jeda

baru saja. sepertinya baru beberapa waktu yang lalu saya merasa menemukan cahaya lentera itu lagi. saya merasa diterangi lagi seperti sebelumnya. namun, tampaknya saya salah. itu bukan lentera.. hanya lilin. yang kini sudah meredup dan akan segera padam. ada jarak lagi. ada jeda lagi. ada kosong lagi. setelah satu paragraf padat yang sarat makna dan kata. maka kita sampai lagi pada jeda yang membisu. yang membiarkan kita merindu akan adanya kata lagi setelah berminggu-minggu. berapa minggu? entahlah. karena dalam dua belas minggu, aku dan kamu akan menjadi gagu. kita akan kaku. katakata beku. mati layu. ini masanya. masa kita mencipta jarak. harusnya memang ada jarak. dua belas minggu. aku menunggu kamu. :')

proyek baru - puisi paralel

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel.. berikut cuplikan yang udah ada.. :) “Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010) “maka di kursi terasamu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan s empat tertinggal. Barangkali kita memang lelah...

lelah

keluh kesah marah sampai pasrah aku berserah duduk merendah sampai berdarah aku lelah butuh celah butuh desahkan setitik nafas diam saja tanpa perang bahasa dan juga jiwa aku ingin semua mengalah sekali saja biar aku rasakan apa itu lepas bebas dikupas saja semua prasangka yang menekan menahanku untuk merasakan kesegaran... aku lelah....

aku kamu & sbuah kata ya :)

setelah melalui banyak sekali pertimbangan, melewatkan cukup banyak momen.. kata "ya" yg ternyata hadir untuk menjawab pertanyaan yg slama 2 bulan ini mengganggu kenikmatan tidurmu.. ya, aku menjawabmu dengan satu kata yang membuncahkan seluruh kebimbangan, kekhawatiran dan ketidakjelasan yg membumbui sajian sehari2 kita. maka aku milikmu & kamu milikku. ya, saling memiliki adalah konsekuensi dari satu kata yg baru saja aku ucap. kita tertawa. bahagia. sepertinya baru saja menemukan sang nirwana yg tadinya kupikir cuma khayal para insan iseng saja. tapi ternyata nirwana benar adanya. kamu merasa lega. aku merasa bangga. kita memberi cinta. smoga slalu dalam bahagia.. (Terimakasih rizki, untuk momen indah pada 18oktober09)

ulang tahun

13oktober2009 untuk pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir.. tak kusampaikan ucap selamat panjang umur.. tak kuucap kata sayang.. tak kusematkan hiasan hati untukmu.. Tapi ternyata, bukan berarti aku mampu melupakan bahwa hari ini, ulang tahunmu.. *bang.. 25 tahun usiamu.. 4 tahun aku pinjamkan hatiku.. now, i moved.. i really do.. slamat menjalani hari2mu dengannya..

sometimes

yep. i admit it, that.. sometimes, i wish i could talk to you. i could tell you what i've been through in time i wasnt with you. wish i could tell you a tale, talked about what love can do and changes things. sometimes, i really wish that spaces between myfingers are filled by you, just like the way you always succeed filled a big hole in my heart. sometimes, i wish i could feel your breath whispering the air of love.. so that i know i could live forever with that air fulfilled the room in my lungs, flowing through my veins and that air filled me. that just sometimes i wish i was still with you.. but, most of times.. all i want is my beloved Rizki.. and i thank that he's here, fixed the rest of my brokenhopes..

Purnama kedua

Awalnya, kukira… Saat kutinggalkan landasan kotamu, dan kupijakkan kakiku diatas tanah Jakarta, aku akan sudah melupakan purnama di Pantai Parai, melupakan melodi-melodi irama hati, meluapakan haru saat aku melambaikan jariku kearahmu sore itu… dengan kata lain… aku akan sudah mampu melupakanmu. Tapi nyatanya… Saat purnama sudah muncul lagi… memoriku berlarian menuju saat aku pernah memandang lukisan langit bersamamu. Kita pernah menatap langit, melihat jiwa wulan yang sedang utuh. Dimalam berangin itu. kita duduk. Tidak berhadapan, tidak juga berdampingan. Tidak berdua, dan tidak mesra. kita sama-sama menikmati cantik rupanya. Kita tidak saling berkata. Tidak bergandengan. hanya saja hati kita melantunkan irama yang sama. Purnama kedua aku masih tetap cinta kamu, semoga saja itu jua yang kamu rasa. Kini, kita juga tidak berhadapan, tidak berdampingan, malah jauh pula jarak yang ada. Tapi rasanya, hati kita masih bernyanyi melodi yang sama. Malam ini iramanya sama-sama sendu Sama-sama ...

Purnama di Pantai Parai

Malam ini purnama. Aku sedang di pesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang ramah mengajak helai-helai rambutku berdansa seraya menikmati nyanyian dari debur ombak yang mesra menyapa pantai. Batu-batu tinggi berbaris tidak karuan, tak apa. Mereka juga menikmati alunannya melodi ombak tadi. Aku… menikmati sayup-sayup gelombang sonik yang cukup kukenali. Tertawa-tawa, bercanda di beranda sebelah. Renyah. Aku menyukai detakan dan tekanan yang menandakan antusiasmu terhadap mimpi-mimpimu yang kau dongengkan. Kamu dan sepupu kita disitu, yang kuajak lepas penat sementara di kampung kelahiran bapaknya, bapakku, dan bapakmu. Seru. Akhirnya aku terbawa untuk nimbrung juga. Lalu, larutlah kita bertiga. Masih di malam purnama, dipesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang mengajak rambutku, rambutmu berdansa menikmati irama-irama sang ombak yang kini mulai genit, mencolek-colek bebatuan yang sedari tadi hanya menonton saja. Sunyi sebentar. Kita bertiga tidak berkata-kata. ...

terima-kasih

aku menerima apa apa yang kamu kasih. kasih makna kcintaan sarat tertuang dari hari haru yg kamu temani. kabur kabur untuk hadir, walau jerit2 tugas meraung2 pinta kamu jamah mereka. tapi kamu pilih aku, katamu. cuma 4 hari, kenapa terburu2? katamu lagi. Kutarik 2 senti kanan dan 2 senti kiri bibirku, melukis senyum yg sekiranya tetap tak jawab pertanyaan yg ngiang ngiung layaknya nyamuk mondarmandir di telingamu. terusnya aku buka mulutku, kubilang biar kamu tetap merinduku tuk kembali lagi dilain waktu. sehabis itu.. Lima jariku melambai kearahmu, punyamu juga.. tapi sama2 tak ikhlas. Aku melangkah menjauh, kamu tetap disitu dgn raut haru biru merinduku, sampai benar lenyap rupaku dari jangkau penyaksianmu Dalam hati.. selamat jalan. sampai jumpa lagi. sampai aku akan banyak menerima apa2 yg kamu kasih. *dedicated 4 people i do love, that welcoming me and my friends amazingly di tanah kelahiran bapakku. love yous. xoxoxo.

izinkanku genggam hatimu, sahabatku..

kemarikan sahabatku terkasih, biar kusambut tanganmu yg mencari2 pegangan. genggam saja syg, aku rela walau aliran darah harus tersumbat, sampai kram sudah jemariku, tak apa.. asalkan kau gantikan dengan damainya hatimu. mungkin kau tak sanggup bersenandung tentang bebanmu.. aku juga demikian, tak jua temu sajak tepat tuk ringankan cemasmu, syg.. jadi genggam saja.. biar pedihmu aliri arteriku, biar terbagi jadi kau tak sendiri.. untukmu jua sahabatku yg lain, yg tak kalah dicintai oleh hati ini. Jangan iri bila tak kurengkuh bahumu.. walau tak kuikatkan jemariku pada milikmu, hati ini sudah terikat pada jiwamu.. ku rasakan getar2 kekecewaanmu pada dunia, ku selami mimpi2 yg kau rangkai menjadi buket indah. ku bersamamu stiap waktu.. Wahai para sahabatku, menangislah padaku, kusediakan kau semangkuk waktu dan seporsi ksediaan tuk temani bulir2 airmatamu.. aku ingin menyuguhkan sesendok gula untuk kepahitanmu.. rasakan semuanya lewat arterimu, rasakan melalui rambatan udara yg membelai ...

mentari

melati tak hentinya tanya bertanya mengapa pada dedaun kering yg hampir mati.. mawar tak jua terima mengapa harum harus bersanding dgn duri yg terberi.. matahari tak mengerti, mengapa ia harus sembunyi saat sang bulan berlaga, padahal ia lah sang penabur cahaya.. mengapa bulan yg dipuja, tetapi mentari yg terhina? katanya bersinar tralu terik hingga buta mata manusia, katanya sengat teralu panas, hangus pula smangat dunia. mentari tersedu, malah berbunga para hijau ditaman. bila matahari sedang penuh smangat, para pekerja mengamuk, mengumpat bangsat padanya.. tanah meretak retak tanda protes, air kabur mengumpat buat manusia kalang kabut kekeringan.. pada saat itu sang bulan berleha2, menunggu dirinya dipuja. oleh para wanita. oleh para insan yg sedang bercinta. oleh para penyair syahdu di dunia. oleh semua umat. mentari iri, iri dgn sambut hangat pada sang bulan. tapi mentari baik hati.. ia tahu, dunia kan mati tanpa hadirnya, sang bulan tak bercahaya, dedaun tak makan. melati akan ma...

tentang kebebasan, pengertian, dan kesabaran

Dia adalah seorang sahabat dari saya. Seorang putri bagi beberapa pangeran dan seorang bagi semua orang. Cantik. Pintar. Berbakat. Ramah. Menyenangkan. Dan yang terpenting, dia bukanlah klise. Dia nyata. Hadir dan ada. Dia menebarkan kehangatan saat dingin menghantui saya. Dia membawakan cahaya, saat gelap mengecam saya dalam kelam. Dia memberikan sebuah senyuman yang meneduhkan disaat saya kehausan. Dia lakukan bukan hanya kepada saya, tetapi juga sekelilingnya. Saya kagum padanya, semua yang mengenalnya akan kagum padanya, akan melihat betapa hebat dirinya. Betapa ia sepertinya selalu tahu mengambil langkah mana demi kenyamanan dia dan semua orang, betapa ia selalu tahu apa yang pantas diucapkan saat diharuskan bertemu dan mengungkapkan pendapatnya, betapa ia tidak takut salah dan berani mengambil bungkusan risiko yang bisa saja membuat dirinya terjerembab. Dia mampu memaafkan dan memberikan pelajaran dari setiap kesalahan. Dia selalu menyenangkan. Tapi tidak hari itu, bulan itu dan ...

apa apa

sepertinya kmu memilih untuk tidak dengar apa2. tidak lihat apa2. tidak bicara apa2. sehingga kmu tidak perlu tau apa2. kmu juga tidak perlu merasakan apa2. kmu tidak ingin apa2. kmu tidak butuh apa2. jadi, buat apa saya mencoba apa2 sama kmu? buat apa saya berbuat apa2 untuk berbaik sama kmu?? tapi tidak apa2.. karena dibalik tidak apa2 pasti ada apa2.. hah.. saya mulai menulis apa2 yang tidak jelas!

kopi hitam

Malam itu aku duduk di beranda rumahku, bercakap dengan seorang kawan baru, yang sebenarnya belum teralu aku kenal. Ditemani semilir angin, segelas kopi tubruk yang hitam, dan percakapan basa-basi. Tawa-tawa kecil mulai mendatangi kami, kekakuan mulai mencair… sampailah kami pada topik yang tak pernah lepas dari kehidupan orang muda, cinta. Aku dan dia sedang mengeluhkan kehidupan cinta kami masing-masing, dia bercerita betapa kelamnya hari yang dia jalani dengan bayangan kekasih terakhirnya yang terpaksa ia tinggalkan. Aku? Heh… hanya dapat menghela napas panjang untuk menunjukan bahwa kisah yang kupunya juga sama gelapnya dengan yang dia baru saja sampaikan. Sejam kemudian, aku merasa telah mengenal dia dari beberapa tahun silam, seluruh kehidupan cintanya terbongkar padaku, bahwa dia pernah benar-benar jatuh cinta pada gadis berusia 6 tahun lebih muda darinya, polos, lucu, dan mampu menyajikan lelucon hangat ataupun dongeng simpel yang akhirnya dapat ditebak. Tapi, si gadis kecil ta...

kamar mandi

Dari dulu, aku menganggap kamar mandi adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri. Ya, karena aku sendiri dan telanjang di dalamnya. Tanpa tertutup seutas benangpun di atas tubuh kecilku yang meliuk (uw, pasti kau sudah membayangkan betapa seksinya aku J). Di kamar mandi itu pula, aku bebas melakukan apapun yang aku mau, aku bisa bernyanyi, menjerit dan suara air yang mengalir dari kran pun akan menenggelamkan suaraku bersamanya, sehingga tak ada seorang pun yang mendengar jerit atau nyanyiku. Tangis juga begitu, air mata itu hanya mengalir menjadi bagian dari air yang tumpah dari baknya yang kepenuhan, menjadi bagian yang bahkan tak terlihat bedanya. Padahal air mata itu jatuh dari organ manusia, yang bernyawa, tapi tak berbeda dengan air yang mengalir pada pipa-pipa panjang menuju tuan kamar mandi. Di kamar mandi, aku biasanya menemukan ilham-ilham yang jadi bahanku untuk menulis suatu karya. Bukan, aku belum pantas menyebutnya karya, mungkin aku akan menamai tu...

bersahabat dengan diam dan bisu

Diam dan bisu seolah selalu menjadi teman terbaik bagi aku dan dirinya. Hanya dirinya. Dia yang kutatap dari meja seberang di kantin, dia yang kukagumi saat dia menendang bola itu ke gawang dan mencetak gol-gol hebat, dia yang hanya tersenyum sesekali, tapi bukan kepadaku, walau sebenarnya aku tahu dia adalah orang yang humoris. Diam dan bisu selalu hadir, seperti layaknya sahabat, tapi hanya untuk kami berdua. Saat di keramaian pesta, saat gelak dan tawa terdengar, saat orang-orang berteriak dan bernyanyi, bahkan kami berdua turut di dalam kegegapgempitaan itu, diam dan bisu masih bisa merayap masuk diantara kami berdua. Diam dan bisu seolah mengawasi kami, tak pernah melepaskan pandangannya, tak pernah membiarkan kami untuk saling mengucapkan satu kalimat, bahkan satu kata. Diam dan bisu hanya mengizinkan tatapan-tatapan atau senyuman basa-basi yang menandakan bahwa kami saling mengenal, atau mungkin saling menganggumi. Tapi, lagi-lagi diam dan bisu yang menengahi keberadaan kami. Ba...

game of love

Membiarkan seseorang pergi dari kehidupan kita adalah hal yang sangat sulit, tapi ternyata, mendatangkan orang lain untuk menggantikannya tidak kalah susahnya… bukan hanya diperlukan berbagai pertimbangan matang agar sakit terdahulu tidak terulang, tetapi banyak hal lain yang harus dilakukan… pembiasaan kembali, pengenalan hati yang baru, nama baru, tingkah laku yang baru, dan keluarga yang baru. Cuma ada dua kemungkinan setelah itu… cocok atau malah semakin berantakan. Proses mengenal ini yang membuatku lelah, membuatku jengah. Berkali-kali aku melakukannya, namun selalu saja ada yang mengganjal dan lagi-lagi gagal. Lalu ku pikir aku memang hanya harus menunggu agar lukaku sembuh terlebih dahulu, barulah aku akan kembali ke dalam permainanku yang berbahaya tadi. Meloncat ke kanan ke kiri, lalu terjatuh kembali, terluka dan kesekian kalinya menunggu kesembuhan datang. Kali ini, lukaku sepertinya menimbulkan bekas yang buruk sekali… aku bahkan tidak ingin mengingat kejadiannya bagaimana...

6 bulan berbanding 4 jam

Tadi malam, kamu membayar enam bulan dengan empat jam. Enam bulan dengan empat jam. Perbandingan yang paling memilukan dan memalukan, sebenarnya. Tapi aku tidak tahu, kenapa rasanya empat jam tersebut melampaui enam bulan yang terbuang enam bulan penuh prasangka dan dendam, dibayar cukup lunas dengan empat jam yang dihabiskan dengan tawa canda. Cukup. Dan aku tidak meminta lebih. Empat jam itu mengubur laraku dan juga kesalku pada dia yang lainnya. Dia yang seharusnya jauh lebih memperhatikanku. Saat ini. Aku lelah terus mengerti tanpa pernah dimengerti. Aku tak ingin meminta karena dia takan pernah memberi. Lewat empat jam itu, aku tahu… kamulah yang terbrengsek… tapi kamulah yang terbaik. Rekor kita pecahkan lagi tadi malam, ditambah dengan satu lagi rekor baru. Terima kasih, aku sudah benar-benar melupakan semua kesalahanmu… It’s a brand new start… kita langkahi jalan ini, sendiri-sendiri… namun kamu tahu, kita masih saling mengawasi u

home

whenever i go wherever i go with whoemever i go how often i go.. whatever makes me go… u know… u’re a home a home, a place for me to find comfort, to find safety.. and u know.. someday.. i’ll be back to u…