Skip to main content

Posts

Suratku untuk Seorang Ibu

Hanya catatan saja. Mungkin belaka, mungkin juga nyata adanya. ---- Teruntuk seorang Ibu di belahan pulau lain, Selamat pagi Ibu, bergetar jemariku menuliskan rangkaian kata yang membuncah tak sabar ingin kuungkapkan kepadamu. Tetapi, tak sopan bila aku tak perkenalkan diriku terlebih dahulu. Aku adalah seorang perempuan, yang katamu modern, yang hidup di zaman yang asing, tak kenal nilai dan budaya seperti yang kau tahu. Mungkin seringkali kau mengelus dadamu, mengetahui bahwa di dunia ini, ada pula manusia-manusia yang tak sejalan dengan pola pikirmu, tentang dunia, tentang Tuhan, tentang keyakinan, dan tentang makna hati dalam bercinta. Manusia-manusia yang tidak kau mengerti. Aku adalah salah satunya, perempuan dengan cara bersolek yang kau dan adatmu anggap tak seronok, tak pantas untuk disandingkan di pelaminan dengan keturunanmu sampai nomor berapapun, seorang perempuan yang tak dimengerti bagaimana bisa merendahkan martabatnya, yang disentuh tubuhnya oleh yan...

UPDATE : Review Salon #2

OKE! Setelah gue menuliskan review salon jilid 1 yang bisa dijumpai disini , gue mau meng-update reviewnya lagi tentang beberapa salon. 1. GRIA INAN Kayanya gue juga pernah menjanjikan ya mau nulis review salon ini kalo udah nyoba. Akhirnya, setelah cukup lama sering lewat dan ngintipin salon yang keliatan mewah ini, gue pun mencoba perawatannya di bulan Juni kemarin. Seinget gue dulu mereka pasang spanduk yang bertuliskan beberapa paket perawatan seharga Rp 70.000, isi paketnya juga lumayan beragam mulai dari lulur, massage, facial, creambath, dan mani pedi. Tapi, gue agak telat kali ya.. karena pas gue dateng kesana sama  calon adek ipar  gue, spanduk itu udah dilepas. Bayangan gue untuk menikmati satu hari penuh dengan harga murah hilang sudah.... Namun, niat memanjakan diri di salon sudah begitu kuat, maka gue dan dia pun melangkahkan kaki masuk ke bangunan yang terlihat seperti rumah-rumah di kawasan elite Jakarta. Tempatnya bersih, bagus, atmospherenya juga pas ...

Escaping The Town - Harapan Island

Huah! Akhirnya setelah sebulan lebih, baru kesampean mau nulisin cerita tentang kepergian gue yang mendadak. After craving so much for beaches, gue pun berhasil escaping town for a moment. Gak jauh-jauh sih, cuma 3 jam by kapal ferry dari Muara Angke, Jakarta Utara. Ada yang bisa nebak kemana jalan-jalannya? Yep! Gue mencicipi salah satu pulau dari jajaran pulau-pulau di Kep. Seribu. Lagi ngetrend banget kan yah jalan-jalan ke Pulau Seribu. Kali ini tujuan trip gue adalah Pulau Harapan. Oh iya, perjalanan ini juga mendadak banget karena temen gue, Tria, bercerita dia mau ke pulau Harapan, dan gue dengan suka rela minta diajak sama doski. (yang mana waktunya cuma selisih 2 hari) Perjalanan dimulai dari Depok, dimana gue dan Tria akhirnya naik taksi ke Muara Angke. Kita berangkat jam 4 subuh, karena diharuskan ngumpul di Angke jam setengah 6. Ya, meskipun agak gak rela mengeluarkan kocek Rp. 130.000 (naik taksi tarif bawah) tapi ternyata taksi adalah...

Surprise from miles awaayy

Happy Birthday, Beyi! Kali ini gue ga bisa ngerayain bday beyi bareng lagi karena doski udah pundah ke Duri since Juli kemarin. Sedih sih. Tapi kok rasanya ga asyik banget ga bikin surprise buat dia cuma karena jarak kita udah jauuuuhh bgt skrg. Ya akhirnya, seperti biasa ide-ide muncul di deadline. Gue memberanikan diri contact temen dia yg muncul di fb. Yang gue tau mereka satu kantor. Nah kebetulan pula orangnya lagi online.. jadilah chat gue langsung berbalas. Awalnya Mas ega (nama temennya, red.) Ngiri yang chat dia itu bukan gue beneran jadilah agak lama meyakinkan dia bahwa ini nanda yg asli yang menghubunginya. Gue mengemukakan rencana gue untuk Bey. As simple as minta tolong beliin kue. Udah itu aja. Gue berfikir at least ada tiup lilin di hari ulang tahun dia. Tanpa panjang lebar, mas Ega pun setuju membantu gue. Itu udah hari senin dan bday bey di hari rabu. Waktunya memang mepet banget apalagi mengingat kesibukan disana... duuhh, makasih banget mas ega ;) ...

Aku yang menanti

Aku masih terus menghitung. Kuputuskan untuk menghitung hari engkau kembali. Kini hanya 73 hari lagi hingga ku akan hangat di dalam peluk tubuhmu yang sama seperti dulu. . Pesan singkatmu mengatakan bejana besi rakitan itu sudah akan lepas landas. Kamu resmi meninggalkan kota ini. Kota yang jauh dari tempat kita bercumbu pertama kali, kota yang tak asing tetapi juga tak kita kenali. Aku termenung sambil mencoba meyakinkan semua ini tak sama lagi. Aku tahu, ada diriku yang kau bawa menuju peraduanmu berikutnya. Dimana duniamu akan terus bergerak dan aku akan selalu kau jaga. Hidup ini tentang pergerakan, bukan? Begitu pula dengan rasa yang kita punya, yang kini kamu paksa untuk bergerak, mengenali lagi, meresapi kembali resah dan indah dari sebuah masa akan perpisahan. Menjadikan setiap masa pertemuan lebih bermakna layaknya kata-kata yang selalu diberi jarak untuk dapat dipahami. Ya, kita sedang mencoba memahami. Tentang apa arti kebersamaan tanpa ada lagi pergerakan. Tak berger...