Thursday, March 13, 2014

Suratku untuk Seorang Ibu

Posted by nandasani at 3:06 PM 1 comments
Hanya catatan saja.
Mungkin belaka, mungkin juga nyata adanya.

----

Teruntuk seorang Ibu di belahan pulau lain,

Selamat pagi Ibu, bergetar jemariku menuliskan rangkaian kata yang membuncah tak sabar ingin kuungkapkan kepadamu. Tetapi, tak sopan bila aku tak perkenalkan diriku terlebih dahulu. Aku adalah seorang perempuan, yang katamu modern, yang hidup di zaman yang asing, tak kenal nilai dan budaya seperti yang kau tahu. Mungkin seringkali kau mengelus dadamu, mengetahui bahwa di dunia ini, ada pula manusia-manusia yang tak sejalan dengan pola pikirmu, tentang dunia, tentang Tuhan, tentang keyakinan, dan tentang makna hati dalam bercinta. Manusia-manusia yang tidak kau mengerti.

Aku adalah salah satunya, perempuan dengan cara bersolek yang kau dan adatmu anggap tak seronok, tak pantas untuk disandingkan di pelaminan dengan keturunanmu sampai nomor berapapun, seorang perempuan yang tak dimengerti bagaimana bisa merendahkan martabatnya, yang disentuh tubuhnya oleh yang bukan menjadi mukhrimnya, bukan pasangan yang meng-ijab qabul-nya, dan tak pedulinya pula apabila ada satu dua orang lawan jenis yang menggenggam lengannya, mengecup pipinya, sebagai tanda persahabatan. Dirimu tidak mengerti, bagaimana hal ini menjadi lazim, bagaimana mungkin seorang bisa bergaul dan bergumul tanpa batas-batas yang kau anggap sebagai nilai kesopanan.

Ibu, besar sungguh jasamu, surga pula balasanmu telah membesarkan keturunan-keturunan yang baik budinya, pekertinya, agamanya, dan terpujilah dirimu karena selalu menundukkan kepalamu di sajadah bermesra dengan dzat Sang Pencipta. Ibu, maafkan perempuan ini yang telah merusak mimpi dan harapanmu, mimpi tentang masa depan dari anak-anakmu. Aku mencintai anak tengahmu, lelaki yang kau timang dahulu, kau nyanyikan dengan ayat-ayat suci dari kitab yang tak pernah lekang dari genggamanmu, kini kunyanyikan dengan musik-musik anak muda, dengan syair-syair penuh kata cinta. Bermesra dengan nafsu dunia, bukan kesucian surga. Bukan sepertimu.

Ibu, aku pun paham kau tak enak tidur, tak enak makan, tahu bahwa darah dagingmu bergaul dengan perempuan macam itu. Perempuan yang kau sebut dalam doamu untuk tak pernah dekat-dekat dengan tali persaudaraan, apalagi jadi menantumu kelak. Hampir tersedak kau dalam nafasmu ketika kau lihat perempuan itu melekatkan kepalanya di pundak anak lelakimu. Berdekatan seolah milik merekalah dunia yang luas ini. Sedangkan, Lelaki itu adalah satu-satunya pengharapanmu yang membawakan dirimu seorang perempuan yang pantas untuk dipinangnya menjadi anakmu yang tak sedarah. Yang akan kau banggakan di hadapan para kerabat, perempuan shalihah, berhijab, menutup aurat, dan berperangai surga di hidupnya yang fana. Yang memberikan cucu, cicit, yang pantas, yang senilai, yang sesuai. Yang tak memalukan.

Ibu, maafkan perempuan yang tak pernah mengerti hidupmu, yang tak acuhkan betapa kecewa dan kekhawatiran dalam batinmu. Kau takut melihat dunia yang berbeda, yang tak pernah kau sentuh, dan mungkin memang tak pernah ingin kau sentuh. Tabu, katamu. Tapi itulah perempuan yang mencintai anakmu. Yang memberikan kasihnya tanpa harap balas dan tak pernah lepas senyumnya jika sedang bercinta, bertukar kata mesra, bergombal ria selayaknya anak muda kasmaran. Atau menangis sejadi-jadinya, ketika patah hatinya mendengar kau tak pernah menerimanya, membiarkan perempuan itu tersedu dan membasahi kain-kain putih di tempat tidurnya.

Ibu, aku, si perempuan itu tahu betul kau takut anakmu tak bahagia, karena aku yakin, ibu dan bapakku juga begitu. Ibu dan bapakku ingin gadis kesayangannya diberikan tempat yang nyaman kelak ketika ia sudah bersuami, mungkin meskipun entah kemana dibawanya pula satu-satunya berlian yang mereka timang dengan kasih dan sayang tak ternilai. Mungkin tak lagi ada di jejak tanah yang mereka injak, tak lagi ia bernafas di ruang udara yang sama, tak lagi mereka melihat matahari terbit di waktunya yang bersamaan. Tetapi, itulah ibu dan bapakku, yang mampu menerima tegar permatanya di bawa pergi, dipelihara oleh pasangannya, nanti. Asalkan tahu bahwa bahagia lah ia bersama lelaki itu nantinya.

Ibu, bisakah ibu seperti itu?
Bisakah ibu terima perempuan itu, karena sumpah mati aku lihat bola mata anak lelakimu menyiratkan kasih yang begitu tulus di hadapanku. Dan tak pernah pula ia akan melupakan dimana surganya terletak, di bawah kakimu yang tak pernah meminta balas jasa meskipun Sembilan bulan kaki itu menjejak lebih berat, tak lupa pula ia bahwa engkau bertahun rela terpejam tanpa lelap karena tangis lapar hausnya membangunkan tidurmu.

Maaf ibu,
Bukan amarah daripada surat ini aku tuliskan, hanya saja.. tak lagi sanggup aku berdiam.
Aku memang tidak sempurna, bukan perempuan dambaan. tetapi, bukankah kita ini manusia yang katanya paling sempurna, namun tak punya daya menyempurnakan sesuatu yang dibuatnya? Dan meskipun dalam kadar yang tak sempurna, perempuan ini punya kasih sayang. Ganjil dan naïf sekali ya atas nama cinta itu, ibu.

Naïf sekali diriku.
Yang terkata modern ini masih cukup mengagungkan cinta.

Ibu,
Demi cintamu kepada lelaki kedua dalam hidupmu,
Mohon berikan izinmu agar aku bisa menjaga dia selama dirinya bernafas.
Jangan kau merasa takut akan sesuatu yang adanya di masa yang tak pasti datang.
Jangan kau takut, lelakimu akan hilang. 

Salam,


Perempuan modern.
 

Corat-Coret si Caberawid Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal