Sunday, December 23, 2012

Sebuah surat untuk kamu yang disana

Posted by nandasani at 8:57 PM 0 comments
Entah apa ini yang namanya kita dikalahkan jarak?
atau justru jarak membukakan mata kita yang selama ini terbutakan olehnya?

Tetiba saja rasaku dan rasamu berubah haluan.
Kamu sampaikan kamu ingin menyudahi, mulutku berkata tidak, hatiku berkata iya.
Otakku tak sanggup membayangkan tidak bersama kamu lagi, hatiku mengatakan mungkin ini saatnya aku mengobati.

Seolah kini apa yang disampaikan berubah menjadi bumerang,
kita saling menyalahkan, kita saling memojokan.
bukan saling mengerti atau saling memahami.
kita tak ingin dipersalahkan, tapi tak kunjung menemukan pembenaran.

aku sayang kamu. aku ingin kamu bahagia.
aku juga ingin bahagia.
bukan berarti bersamamu aku tidak bahagia. tetapi aku yakin, kita berhak untuk merasa lebih bahagia.
pertanyaannya hanyalah "dengan siapa?" atau "bagaimana caranya?"

Saat ini aku belum berani melangkah untuk meninggalkan kamu, aku juga berharap kamu belum mau meninggalkan aku.
tetapi aku tahu, kita mulai sudah sama-sama lelah menyatukan apa yang tidak pernah sama.
memaksakan bentuk yang tak pernah bisa saling mengisi.
mencoba melogikakan atau justru tidak acuh terhadap logika bahwa kita mungkin memang bukan untuk bersama.

katamu, teori kita saja sudah berbeda.
aku masih ingin mencoba, tetapi aku tidak tahu bagaimana kamu disana.

mungkinkah kamu sudah menyerah?

Monday, December 17, 2012

Semua sudah diatur olehNya

Posted by nandasani at 10:59 AM 0 comments
Saya bukan orang yang religius. Tapi saya percaya bahwa Tuhan itu maha ada, maha kuasa, dan maha mengerti.

Sekitar satu bulan yang lalu, disuatu malam ketika saya sedang menghabiskan waktu bersama salah seorang sahabat saya, Andra, di Margo City, tiba-tiba pacar saya mengirimkan sebuah bbm yang berisi salinan kontrak kerja yang ditawarkan kepada dia.

Setelah mengirimkan kontrak itu, dia pun bertanya pendapat saya. Entah kenapa, hati saya gak sreg aja. Ada perasaan tidak nyaman ketika saya menerima file tersebut. Padahal, gak ada yang salah dari isi kontraknya. Standar saja seperti kebanyakan kontrak kerja lainnya. Dia bahkan tampak excited menerima penawaran kerja tersebut.

Tapi akhirnya, saya memutuskan untuk menunda membahas kontrak itu lebih lanjut dengan pacar saya, karena saya sedang bersama sahabat saya. tetapi, dia tengah perjalanan saya menuju Old House, dia bbm saya lagi. Bilang kalau saya diminta pulang cepat. Jujur saja, saya sempat kesal karena sebelumnya saya sudah bilang bahwa saya hari ini mau pergi sama Andra dan dia sudah setuju. Maka saya pun menolak untuk pulang cepat. Tetapi, saya tahu ada yang penting sampai dia minta saya datang. Biasanya dia gak pernah kayak gitu sih.. Otomatis saya jadi kepikiran dan gak tenang juga jalan-jalannya.

Dan, saya terjebak di sandwich moment lagi.
Suatu keadaan yang saya benar-benar benci karena kedua belah pihak sama pentingnya untuk saya.

Dengan berat hati, saya memutuskan untuk datang ke tempat pacar dan mohon maaf sejadi-jadinya sama sahabat saya, dan janji untuk make up plan di hari apapun dia bisa. pada saat itu, saya tahu saya sudah mengecawakan dia teramat sangat. and it guilts me more.

...

Sampailah saya ke kosan pacar.
Ternyata keputusan yang saya ambil hari itu tepat.
Kami membicarakan tentang masa depan. tentang hidupnya, hidup saya, dan bagaimana hidup kami kedepannya.

semua terkait dengan tawaran kerja yang sebelumnya dikirim ke saya.
Deg. Entah kenapa saya masih tetap gak sreg. Hal inipun saya komunikasikan, tetapi dia mencoba menjelaskan secara logis mungkin saya merasa gak rela dia pergi jauh dan meninggalkan saya disini.

Ya. Mungkin. Saya terima hal itu.

Dan waktupun berjalan. Hari-hari ternyata berlalu membaik. Ia bahagia dengan pekerjaannya dan saya pun ikut bahagia. dan meyakini bahwa feeling saya salah. mungkin benar bahwa yang saya rasakan hanyalah ketakutan ditinggal sendiri.

Hingga benar akhirnya, waktu keberangkatan pun datang.
Dimana saya kembali merasakan kekosongan yang dulu pernah terjadi. masih di kamar yang sama. namun dengan perasaan yang begitu berbeda. dengan insan yang sangat berbeda. dengan rasa sayang yang jauh lebih dalam, dengan membawa kisah yang lebih manis dan dengan hati yang jauh lebih terjaga.

dia pun pergi.
menuju sebuah pulau yang katanya surga. Bintan.

banyak harapan yang dia bawa, yang disematkan di pundaknya oleh saya, oleh adiknya, oleh keluarganya.

hingga di hari keempat saya mendengar berita. yang seketika membuat air mata saya terjatuh.

dan hanya ini yang ingin saya sampaikan.


Sayang,
Cepat kembali. Cepat pulang.


---

maaf, detailnya belum bisa saya bagi. tapi nanti, pasti saya cerita disini ya.

janji palsu

Posted by nandasani at 10:37 AM 0 comments
hey, readers!

Sepertinya gue teralu banyak memberikan janji palsu untuk datang dan menulis kembali. Nyatanya, susah banget bisa balik ke depan laptop buat nulis yang gak berhubungan dengan pekerjaan sehari-hari di kantor.

beberapa hari yang lalu, gue punya kesempatan ngobrol sama atasan gue. Pak Hendrawan namanya, beliau adalah manager di departemen L & D tempat gue mengais rejeki. Beliau seorang trainer, seorang manager, seorang bapak, dan buat gue beliau merupakan pribadi yang cukup menyenangkan. No matter what rekan kerja gue bilang tentang dia, buat gue he is fine enough.

Obrolan gue kemarin adalah tentang bagaimana kita membuat diri kita bahagia.
Dia bilang, saat kita sudah teralu terjebak dalam kegiatan kantor kita yang rutin dan terus menerus seperti itu, monoton sifatnya.. sulit untuk kita bisa jadi bahagia. kita harus punya kegiatan yang benar-benar kita sukai, untuk lepas dari kepenatan sehari-hari. Dia punya niat untuk bikin training untuk anak-anak SD. menurut dia gelak tawa anak kecil itu sangat membahagiakan. masih polos, masih lugu, masih belum terkontaminasi sama stressor dunia orang dewasa. dan itu menyenangkan untuk dia.

While, saat itu gue berfikir. Gue yang baru 8 bulan di kantor saja sudah mulai terjebak dengan rutinitasnya dan itu yang menjelaskan kenapa gue cuma datang dengan janji palsu untuk menulis di blog lagi. Selalu defense dengan alasan gak punya waktu buat nulis lagi. padahal, bisa aja loh meluangkan waktu sejenak.. barang satu - dua jam untuk menulis di perjalanan ataupun selepas jam kerja. Tapi alasan kelelahan juga jadi faktor yang akhirnya bisa dipakai untuk defense.

Sering gak sih kita seperti itu?
mengeluh tidak bahagia, mengeluh bosan, tetapi gak ada effort dari diri sendiri untuk mengatasi rasa bosan dan tidak bahagia itu?
 

Corat-Coret si Caberawid Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal