Monday, April 27, 2009

BACKSTAB!

Posted by nandasani at 11:10 PM 1 comments
saya lagi pengen ngomel.

sebabnya??
bcuz i knew someone backstabbed me. i knew it long before i write this note. but that time all i did was silent. why? bcuz i thought, it is useless to talk about it. the stuff was over and why should i take my time to think about that-unimportant-thing.

but then..

i dont want to be the victim for the second time with another person. i dont want being backstabbed by anyone else. thats why.. i become more and more aware to new people.

wait..
it doesnt mean i cant trust other. i just become aware.

i hate the two-faces-man *well, i dont know if i use the rite term. hehe*. maybe.. maybe bcuz i am a straightforward person, that i show people if i dont like them, and i also show people i care about.

but this guy.. the guy backstabbed me a few months ago did this :

he showed me AS IF he was a friend of mine. AS IF he cared for me, for his friend that used to be my lover that time, he showed us AS IF he was in our side.

he also did this :
accompanied my lover came to my house, had fun with us, picked me from my house to spend weekend with then, being my "most careful" friend when i got probs with my lover, being my "trusted" friend to share about my lover, and he picked me to see my lover.

tapii. dia ternyata adalah mata2 darii si cewe yg jelas2 sensi sampe mampus ama gue. dan dia melaporkan semua ke cewe itu, LENGKAP DGN TANGGAL DAN JAM SETIAP KEJADIAN.

brengkes banget tu orang.

sumpah. gw benci orang muka dua!
dan skarang.. gue gatau.. apakah ada orang lain yg melakukan hal srupa dengan si brengkes itu. karena spertinya, oknum yg baru saja "baik" sama gue ini, juga "senyum di depan gue, pisau dibalik gue".

gue bukan negative thinking. gue hanya belajar dari pengalaman. yang membuat gue jauh lebih berhati2. dan terutama : DONT EVER TRUST PEOPLE WITH YOUR HEART. it's hurt when we found out that they lied to us.

tapi, gue lagi belajar untuk jadi orang yg lebih baik. gue ga akan dendam sama orang itu. tapi, jgn berharap gw akan percaya lg sama makhluk berinisial 'A' tsb.

*buat mantan : lain kali cari temen yg ga nusuk dari belakang ya. gue inget kalimat lo, "mereka ga mau ikut campur.. tapi mereka peduli".. ya, itulah bentuk kepedulian mereka!

Monday, April 20, 2009

kopi hitam

Posted by nandasani at 11:10 AM 0 comments
Malam itu aku duduk di beranda rumahku, bercakap dengan seorang kawan baru,
yang sebenarnya belum teralu aku kenal. Ditemani semilir angin, segelas kopi
tubruk yang hitam, dan percakapan basa-basi. Tawa-tawa kecil mulai mendatangi
kami, kekakuan mulai mencair… sampailah kami pada topik yang tak pernah lepas
dari kehidupan orang muda, cinta.

Aku dan dia sedang mengeluhkan kehidupan cinta kami masing-masing, dia
bercerita betapa kelamnya hari yang dia jalani dengan bayangan kekasih
terakhirnya yang terpaksa ia tinggalkan. Aku? Heh… hanya dapat menghela napas
panjang untuk menunjukan bahwa kisah yang kupunya juga sama gelapnya dengan
yang dia baru saja sampaikan.

Sejam kemudian, aku merasa telah mengenal dia dari beberapa tahun silam,
seluruh kehidupan cintanya terbongkar padaku, bahwa dia pernah benar-benar
jatuh cinta pada gadis berusia 6 tahun lebih muda darinya, polos, lucu, dan
mampu menyajikan lelucon hangat ataupun dongeng simpel yang akhirnya dapat
ditebak. Tapi, si gadis kecil tadi mampu membuat temanku ini duduk diam selama
enam jam untuk mendapati si kecil ketiduran diwaktu mereka ngobrol lewat sms. Katanya,
tatapan si kecil tadi mudah sekali dibaca, kekaguman pada dirinya, yang
menjadikannya lebih kuat setiap hari, lepaskan beban kekhwatiran dalam lubuk
hatinya. Temanku hanya tertawa tipis, mengingat kenangan mereka, miris dan
menipu diriku serta dirinya sendiri dibalik senyum tadi. Kutanyakan pada dia, kenapa
mereka berpisah? Temanku terdiam, entah tak tahu mau menjawab apa atau tidak
ingin dirinya mengingat lagi alasan menyakitkan itu. Aku pun menebak-nebak
dalam hati. Tapi gagal… tak kutemukan sedikitpun celah untuk mendapatkan
jawabannya.

Si kecil tadi, diakuinya, merupakan seleranya yang jauh melenceng, jauh
dari kriteria dewasa, tapi itu yang dia cari. Dia cukup lelah dengan
kedewasaan, dia butuh seorang yang masih bisa berimajinasi, larut dalam
khayalannya. “dari dulu aku ingin menjadi putri”, ceritanya pada temanku di
suatu malam, respon temanku, yang kebetulan sudah teralu sering dalam dunianya
orang dewasa adalah “mimpi tuh yang realistis”, tapi si kecil menjawab “mimpi
tuh ga perlu realistis, namanya aja mimpi, boleh suka-suka dong”. Temanku diam
sejenak, berfikir… “iya juga ya? Mimpi kok realistis?”. Seketika dia berubah menjadi
orang yang lebih “muda”.

Tapi, lagi-lagi temanku tersenyum tipis, miris. Dia bilang, dia sayang si
kecil, tapi dia tidak mampu melakukan apapun, mereka berbeda dalam satu hal.
Aku sempat bingung, tentu saja mereka berbeda, usianya saja terpaut cukup jauh
darinya, pemikirannya juga berbeda, dia begitu dewasa, begitu complicated.
Sedangkan si gadis manis ini, khayalannya saja masih sebatas ingin menjadi
seorang putri seperti di dalam dongeng. Begitu polos…

Aku mulai menceritakan apa yang terjadi pada diriku, bahwa perjuanganku
juga berat, perjuangan melawan ombak-ombak besar dan bergelombang dalam arungan
samudra percintaanku. Walaupun pada ujungnya, aku tahu semua itu menjadi suatu
pelajaran paling berharga dalam hidupku.

Aku, seorang wanita yang kata teman-temanku memiliki sejuta pesona untuk
menarik pria manapun yang melihatku, tapi entah mengapa aku melihat diriku
biasa-biasa saja, bahkan teralu biasa, selalu gampang ‘melirik’ pria
disekelilingku, walau teman-temanku mengatakan merekalah yang melirikku, bahkan
beberapa mengatakan dengan berlebihan bahwa mereka bukan hanya melirik, tetapi
memerhatikan gerak-gerikku. Ironisnya, aku malah jatuh ke dalam cinta seseorang
yang sudah dimiliki orang lain, parahnya, aku tak mampu berpaling. Memalukan.
Itulah aku, beberapa bulan menjalani hubungan tanpa ikatan dengan pria si
pendua, perang dingin dengan kekasihnya yang tidak mengenalku, berperang dengan
nuraniku yang mengatakan aku salah. Akhirnya aku berpisah, namun aku masih
tidak berpaling. Perasaan terdalamku masih untuk dirinya, hingga beberapa tahun
berikutnya, dia kembali. Kembali untuk pergi selamanya. Bukan mati, karena
sebenarnya mati lebih baik daripada dia meninggalkan aku untuk wanita lain.

Selanjutnya, aku menjalani hidupku seperti biasanya, setidaknya itulah yang
terlihat oleh beberapa orang. Aku berhasil menemukan pria, yang kalau
kubanding-banding, jauh lebih baik daripada dia yang hanya menjadikan aku si
nomor dua.

Beberapa saat setelah itu, pembicaraan aku dan temanku hanya sedikit mengajak
kata-kata. Kami lebih banyak menyertakan diam dan tenggelam dalam kenangan
masing-masing. Seolah masa lalu mengejar kami kembali, menarik kami, memaksa
kami untuk merasakan lagi rasa senang, sedih, gundah dan gulana masa itu.
Gambaran-gambaran beberapa waktu kebelakang seolah bermain-main di depan kami,
menari-nari, menunjukkan dirinya kembali,

Beep. Tiba-tiba suara dari handphone temanku memecah kesunyian yang daritadi
ikut ‘nimbrung’ bersama kami. “dia”. Gumam kecil suara temanku, suaranya lebih
berat dari yang tadi kudengar. “pertanyaan kecil, simpel, selalu seperti itu
caranya mencairkan kebekuan diantara kami. Begitu tertebak. Klasik. menarik”.
Lalu dia diam lagi, meletakan telepon genggamnya, matanya menunjukan
sinar-sinar keinginan menjawab setiap tanya kecil yang dilontarkan gadisnya.
Tapi dia mengurungkannya, mengubur dalam-dalam, menimbunnya dengan sejuta
alasan yang menurutnya logis, yang menurutnya, bukan menurut si kecil, lebih
baik dilakukan. “kami berbeda” lalu dia kembali membisu.

Aku, yang sedari tadi hanya melirik kearahnya, akhirnya mengeluarkan
kata-kata yang tak pernah aku susun sebelumnya, “semua didunia ini diciptakan
berbeda, karena jika semua sama, aku tidak sanggup membayangkannya, betapa
membosankan hidup ini. Kemana pun kamu melangkah, kamu akan bertemu dengan
orang yang memiliki wajah yang sama, baju yang sama, rumah yang sama,
pemandangan yang sama. Ah… pasti juga akan membingungkan bukan, harusnya kamu
bersyukur karena kamu berbeda, perbedaan kalian akan saling melengkapi. Kamu
kolot dan dewasa, dia begitu polos dan lugu, lucu, masih banyak imaji yang akan
membuat kedewasaanmu lengkap, lengkap karena kamu tak pernah meninggalkan
masa-masa kecil dan indahmu melalui imajinya, dia pun akan dewasa dalam dunia
khayalnya, menjadi putri yang hidup dengan pangeran yang dapat mengajarkannya
kebijaksanaan, bukan hanya keindahan khayal, tapi caranya menerima kenyataan
yang kadang tidak sesuai dengan khayalan. Kalian akan lengkap jika bersama”

Tapi dia hanya diam… lama. Sampai akhirnya dia mengucapkan “tapi, kami
akan lengkap tanpa perbedaan itu”. Aku berfikir sebentar dan mulai mengerti…
mereka berbeda keyakinan, tentu. Apa lagi yang tidak bisa ditolerir?

Selesai aku menguliahi dia dengan segala kesoktahuan aku, dia hanya
tersenyum “terima kasih”. Aku membalas senyumnya. “kamu tahu? Kadang menjadi
yang kedua, merupakan yang lebih spesial daripada yang pertama, yang kedua,
walaupun terdengar seolah ada di peringkat dua, kadang menjadi perhatian utama.
Kamu pernah tidak berfikir mengapa dia menjadikanmu yang kedua? Karena kamu
spesial, kamu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang pertama, kamu
pernah terfikir mengapa dia tak mau melepas dirimu? Karena dia takut kehilangan
kamu, takut tidak pernah menemukan lagi sosok se-spesial kamu. Karena
menurutnya, kamulah yang menjadi pelengkap dalam hidupnya. Namun, mungkin tetap
saja keegoisan yang menang. Pria, mereka memang seperti itu, ingin menunjukkan
bahwa dirinya tangguh dan mampu meraih apapun yang mereka inginkan. Dia bangga
bisa memiliki dua, diantara mereka yang untuk mendapatkan satu saja, harus
menyeret harga dirinya, menjatuhkan lawan-lawannya, dan menerima akhirnya
mereka kalah. Apalagi, kau yang didapatkannya. Kau yang begitu istimewa, bahkan
disemua mata lelaki, siapapun akan tertarik padamu”. Aku hampir tersedak
ludahku sendiri. Mencoba memahami apa yang baru saja lelaki ini katakan padaku.
“satu yang salah pada dirinya, dia akhirnya memilih membiarkanmu pergi dari
hidupnya… itu bodoh” dia melanjutkan. Aku merasakan darah mengalir begitu
cepat, membuat jantungku harus bekerja dua kali lebih keras dari biasanya.

Dia tersenyum lagi… “aku melakukannya juga, Sandra”. Akhirnya dia
menyebut namaku, Sandra. “aku pria bodoh yang menduakan, lalu membiarkannya
pergi… hilang bersama masa laluku. Tapi dia kembali datang, membayangiku,
setiap malam, meminta aku menebus dosaku padanya. Sampai pada akhirnya, aku
bisa mengusirnya lagi, kedua kalinya, karena gadis kecil tadi. Yang hanya dapat
ku kagumi, tanpa dapat aku miliki. Tapi, dengan dia hidup dalam anganku, dia
akan tetap sempurna, seperti apa yang aku inginkan. Dan aku menyukainya tetap
seperti itu”. Mungkin kini dia telah melupakan bayanganku, bayang yang selalu
gentayangan menagih janjinya yang tak pernah dia tepati, bayang yang selalu
menghantarkan rinduku padanya. “aku juga sudah melupakannya, Dimas. Dia telah
pergi tertiup angin yang berhembus kearah masa lalu. Menenggelamkannya didasar
lautan kegelapan, tertimbun pasir di pantai kesedihan. Aku akan terus naik ke
gunung, dimana aku akan merasakan kesejukan karena hijau dan rindangnya
pepohonan, tempat dimana aku akan melihat dunia dengan pandangan yang lebih
luas, meninggalkan jauh pantai dan laut kesedihanku. Dia dibelakangku. Jauh.
Aku mendaki bersama penjagaku, seseorang yang selalu setia menemaniku,
menungguku dalam langkah yang tertatih menginjak bebatuan gunung, menggegam
erat tanganku saat aku harus melalui lekukan terjang dan curam. Kami akan
mencapai puncaknya, bersama.” Dan aku tersenyum.

Malam itu, semilir angin dan dua gelas kopi hitam yang telah habis
diseruput kami telah membawa kami pada perenungan kisah masing-masing. kami,
mampu melihat lebih dalam untuk kisah lawan, membukakan pintu terang untuk
kami. Kehitaman cinta kami, telah diseruput habis seperti kopi hitam yang ada
di dalam gelas tadi. Hanya akan ada ampas yang dibuang, menyatu dengan tanah,
terkubur, dan mungkin… hanya mungkin, akan diam dihalaman rumah kami,
menemani kami dalam kebahagiaan.

kamar mandi

Posted by nandasani at 11:09 AM 0 comments
Dari dulu, aku menganggap kamar
mandi adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri. Ya,
karena aku sendiri dan telanjang di dalamnya. Tanpa tertutup seutas benangpun
di atas tubuh kecilku yang meliuk (uw, pasti kau sudah membayangkan betapa
seksinya aku J). Di kamar mandi itu
pula, aku bebas melakukan apapun yang aku mau, aku bisa bernyanyi, menjerit dan
suara air yang mengalir dari kran pun akan menenggelamkan suaraku bersamanya,
sehingga tak ada seorang pun yang mendengar jerit atau nyanyiku. Tangis juga
begitu, air mata itu hanya mengalir menjadi bagian dari air yang tumpah dari
baknya yang kepenuhan, menjadi bagian yang bahkan tak terlihat bedanya. Padahal
air mata itu jatuh dari organ manusia, yang bernyawa, tapi tak berbeda dengan
air yang mengalir pada pipa-pipa panjang menuju tuan kamar mandi.

Di kamar mandi, aku biasanya
menemukan ilham-ilham yang jadi bahanku untuk menulis suatu karya. Bukan, aku
belum pantas menyebutnya karya, mungkin aku akan menamai tulisanku sebagai isi
hati diatas kertas putih. Sayangnya, aku tidak mungkin membawa kertas dan pena
kedalam kamar mandiku, karena kamar mandi yang ada dirumahku, bukan kamar mandi
gedongan yang “kering”, tapi kamar mandi yang terdiri dari satu buah bak mandi
kotak, dan kloset jongkok didalamnya. Bagaimana aku bisa menulis? Jadi, yang
kulakukan hanyalah mencoba menyimpan ilham-ilham tadi kedalam memoriku yang
kerjanya seperti kereta pakuan ekspress,, cepat sekali berlalu dari satu
stasiun ke stasiun lainnya. Sehingga, ribuan ide cemerlang tadi akan segera
lenyap bersamaan dengan keringnya tubuhku yang dibalut handuk. Sial!

Kamar mandi bisa menjadi
sahabatku, tapi juga musuhku sekaligus. Bayangkan, betapa dia memberikan aku
ruang untuk berpikir mengenai hal-hal yang dapat aku tuliskan, tapi dengan
berakhirnya waktuku di kamar mandi, dia juga turut mengajak ide tersebut
tercebur ke dalam septiteng pembuangan. Ah! Menyebalkan sekali rasanya
mengetahui hasil pemikiran tersebut dimakan hidup-hidup olehnya! Tapi sekali
lagi, untukku kamar mandi hanyalah sebuah ruang dimana aku bisa menjadi diriku,
menangis, berteriak, tertawa, atau hanya diam dan telanjang… kamar mandiku,
ruang yang memakan semua karyaku… yang mungkin seharusnya telah membawaku ke
dunia yang berbeda dari yang kumiliki sekarang. Dunia kata-kata dan dunia
imajinasi. Dunia dongeng yang dipenuhi harapan dan akhir kisah yang membuat
kita menyunggingkan senyuman di bibir. Kamar mandi, dia bisu, tapi dia bisa
membuatku berkata-kata. Dia cemburu padaku, pada diriku yang mempu
menuliskannya. Maka, dia menelan semua yang telah kukatakan padanya, sampai aku
tak mampu lagi mendengar syair itu didalam diriku. Kamar mandi itu… telah
menelannya.

reposting!!

Posted by nandasani at 11:05 AM 0 comments
hihihi.. aku lagi reposting blog jaman dulu yg masuk ke dalam tulisan-tulisan yang saya anggap "cukup bermutu" hihihi. enjoooy.

bersahabat dengan diam dan bisu

Posted by nandasani at 11:05 AM 0 comments
Diam dan bisu seolah selalu menjadi teman terbaik bagi aku
dan dirinya. Hanya dirinya. Dia yang kutatap dari meja seberang di kantin, dia yang
kukagumi saat dia menendang bola itu ke gawang dan mencetak gol-gol hebat, dia
yang hanya tersenyum sesekali, tapi bukan kepadaku, walau sebenarnya aku tahu
dia adalah orang yang humoris.

Diam dan bisu selalu hadir, seperti layaknya sahabat, tapi
hanya untuk kami berdua. Saat di keramaian pesta, saat gelak dan tawa
terdengar, saat orang-orang berteriak dan bernyanyi, bahkan kami berdua turut
di dalam kegegapgempitaan itu, diam dan bisu masih bisa merayap masuk diantara
kami berdua.

Diam dan bisu seolah mengawasi kami, tak pernah melepaskan
pandangannya, tak pernah membiarkan kami untuk saling mengucapkan satu kalimat,
bahkan satu kata. Diam dan bisu hanya mengizinkan tatapan-tatapan atau senyuman
basa-basi yang menandakan bahwa kami saling mengenal, atau mungkin saling
menganggumi.

Tapi, lagi-lagi diam dan bisu yang menengahi keberadaan
kami. Bahkan saat jarak kami terpaut tidak sampai satu meter, kami tetap
ditengahi oleh diam dan bisu. Sampai suatu hari, dia menentang mereka berdua.
Dia mulai menunjukkan bahwa mereka tidak bisa selamanya menang, mereka takluk
padanya. Suara, kata dan kalimat mulai hadir menyapu diam dan bisu, bahkan kami
tertawa. Dan seketika kami lupa akan hadirnya diam dan bisu pada kehidupan lalu
kami. Tawa, canda, harapan dan kehangatan menjadi bagian dari kami, seolah
mereka takan pernah pudar dan pergi meninggalkan.

Diam dan bisu tidak mau tinggal diam, mereka telah teralu
lama menikmati keberadaannya ditengah-tengah kami. Diam mulai mengajak bisu
untuk berdiplomasi dengan perbedaan, kenyataan, dan rasa sakit. Mereka semua
tidak senang kami berada di kehidupan baru kami yang tidak lagi memperdulikan
mereka.

Lama mereka menyusun strategi, dan kini… gerilya mereka kembali
menang. Mereka kembali menjadi sahabat kami, merasuk kembali ke jiwa kami, ke
dalam harinya, hariku. Dia diam melihatku, aku bisu saat bertemu dengannya.
Perbedaan ada di depan matanya, kenyataan memaksa aku mengakui keberadaannya.
Dan akhirnya, rasa sakit diam-diam mengalir dalam darah kami, menyanyat nadi
dan urat kami, hingga akhirnya… kami mati tanpa kata apalagi tawa. diam membuat bisu. dan bisu adalah diam.

game of love

Posted by nandasani at 11:04 AM 0 comments
Membiarkan seseorang pergi dari kehidupan kita adalah hal yang sangat sulit, tapi ternyata, mendatangkan orang lain untuk menggantikannya tidak kalah susahnya… bukan hanya diperlukan berbagai pertimbangan matang agar sakit terdahulu tidak terulang, tetapi banyak hal lain yang harus dilakukan… pembiasaan kembali, pengenalan hati yang baru, nama baru, tingkah laku yang baru, dan keluarga yang baru. Cuma ada dua kemungkinan setelah itu… cocok atau malah semakin berantakan. Proses mengenal ini yang membuatku lelah, membuatku jengah. Berkali-kali aku melakukannya, namun selalu saja ada yang mengganjal dan lagi-lagi gagal.

Lalu ku pikir aku memang hanya harus menunggu agar lukaku sembuh terlebih dahulu, barulah aku akan kembali ke dalam permainanku yang berbahaya tadi. Meloncat ke kanan ke kiri, lalu terjatuh kembali, terluka dan kesekian kalinya menunggu kesembuhan datang. Kali ini, lukaku sepertinya menimbulkan bekas yang buruk sekali… aku bahkan tidak ingin mengingat kejadiannya bagaimana luka ini bisa hadir di hatiku.. luka yang kudapat setelah aku bersenang-senang, teralu senang bahkan hingga saat aku jatuh, rasanya amat menyiksa. Aku tidak ingin mengingatnya lagi… tidak sama sekali ingin aku menyentuh serpihan debu-debu kenangan pahitku di masa itu, namun tak kuasa ku kendalikan memori di dalam otakku. Aku tetap terkenang tentangnya.

Suatu hari ku bertemu dengan permainan yang lebih aman, lebih menjanjikan kemenangan untukku apabila ku terlibat di dalamnya. Permainan yang membuatku tertawa dan merasa nyaman bergelut dengan setiap teka-tekinya. Aku jatuh cinta dengan permainan ini dan rasanya tak ingin aku berhenti bermain hingga waktu yang memaksaku pergi. Tapi bagaimana dia? Apakah dia siap menerima bekas lukaku? Bekas luka yang ternyata dia juga punya.

Lukaku adalah patah hati… patah hati karena cinta yang teralu dalam… cinta yang ternyata tidak terbalaskan atau bahkan terabaikan. Hingga sebuah keputusan perpisahan menghadirkan keputusasaan yang tidak ada habis-habisnya. Lelah dan jengah mencari obatnya.

Tapi dia sudah hadir disini, jadi permainan baru untukku. Aku harus berfikir, dan aku harus berjuang untuk menjadi pemenang…

6 bulan berbanding 4 jam

Posted by nandasani at 11:04 AM 0 comments
Tadi malam, kamu membayar enam bulan dengan empat jam. Enam bulan dengan empat jam. Perbandingan yang paling memilukan dan memalukan, sebenarnya. Tapi aku tidak tahu, kenapa rasanya empat jam tersebut melampaui enam bulan yang terbuang enam bulan penuh prasangka dan dendam, dibayar cukup lunas dengan empat jam yang dihabiskan dengan tawa canda.

Cukup.

Dan aku tidak meminta lebih.

Empat jam itu mengubur laraku dan juga kesalku pada dia yang lainnya. Dia yang seharusnya jauh lebih memperhatikanku. Saat ini. Aku lelah terus mengerti tanpa pernah dimengerti. Aku tak ingin meminta karena dia takan pernah memberi.

Lewat empat jam itu, aku tahu… kamulah yang terbrengsek… tapi kamulah yang terbaik. Rekor kita pecahkan lagi tadi malam, ditambah dengan satu lagi rekor baru. Terima kasih, aku sudah benar-benar melupakan semua kesalahanmu…

It’s a brand new start… kita langkahi jalan ini, sendiri-sendiri… namun kamu tahu, kita masih saling mengawasi u

home

Posted by nandasani at 10:59 AM 0 comments
whenever i go

wherever i go

with whoemever i go

how often i go..

whatever makes me go…

u know…

u’re a home

a home, a place for me to find comfort, to find safety..

and u know..

someday.. i’ll be back to u…

aku semakin jauh dari mengerti..

Posted by nandasani at 10:43 AM 0 comments
Aku semakin jauh dari mengerti arti cinta
Semakin bingung saat mencari maknanya

Hari ini, pasangan muda itu menikah. Mengikrarkan janji setia sehidup semati. Mau berbagi. Bagi suka juga dukanya. Melewati hari bersama. Dengan penuh khidmat. Mereka berjanji, untuk saling menyanyangi. Tapi, sampai berapa lama? Berapa lama janji yang diikrarkan tersebut bertahan di dalam hati mereka? Seberapa sungguh mereka mengucapkannya? Seberapa besar perjuangan mereka untuk menepati janji tersebut?

Tiga hari kemudian, terdengar deru tangis sakit hati seorang wanita. Terlihat langkah gontai pria dewasa. Mereka masih muda. Seperti usia pernikahan mereka. Masih muda. Masih kecil. Masih ingusan. Masih harus banyak belajar dari kesalahan. Namun, rasanya mereka memilih mati sebagai bayi cinta. Mereka baru memutuskan untuk berhenti menghembuskan nafas-nafas kasih dalam kehidupan rumah tangga mereka. Mereka bercerai. Dengan mudahnya.

Minggu lalu, dua insan bercinta. Begitu bahagia. Seolah-olah dunia ini milik mereka berdua saja. Tak dipedulikannya pengemis-pengemis cinta yang sedang menderita di sekitar mereka. Yang mereka tahu hanyalah cinta di dalam hati mereka. Asmara yang sedang membara. Rindu yang bergumul di dalam dadanya. Sentuh menyentuh. Ucap saling ucap. Cinta di mata. Cinta di hati. Cinta di bibir.

Esoknya, kulihat dua manusia saling teriak. Saling membentak. Saling menyalahkan. Dan tak ada yang mau diam. Keduanya saling marah dan penuh kebencian. Sang wanita menuduh kekasihnya berbagi hati dengan wanita lainnya. Sang pria tidak terima. Bukannya dia menunjukkan bahwa cinta hanya untuk wanita di depannya, malah didampratnya sang hawa.

Di hari lainnya, masih banyak aku lihat kisah bahagia dan juga sengsara karena perihal cinta. Ada pasangan yang baru saja merayakan pernikahan peraknya. 25 tahun bersama. Berjuang menghadapi kemelut dengan penuh keyakinan, bahwa ketulusan cinta mampu mengatasinya. Ada pula yang Cuma bisa diam seribu bahasa karena ditinggal mati kekasihnya. Ada pula diam karena begitu marah akan kegagalan komitmen yang pernah dibangun bersama. Ada yang meraung-raung tidak terima dipisahkan karena perbedaan agama, masalah keluarga dan sebagainya.

Aku? Takut. Begitu takutnya aku bersentuhan dengan cinta. Begitu trauma aku dikecewakan sang permata hati. Bukankah aku sudah berbahagia dengan hidupku sendiri? Itulah tanyaku dalam hati. Tanya yang sebenar-benarnya pembelaanku atas ketidakberanianku mengambil risiko. Tanya yang sebenar-benarnya adalah aku menutupi kebutuhanku akan afeksi dari seorang pecinta. Aku pernah kehilangan milikku yang paling berharga. Dan aku tak ingin pernah mengulangnya.

bukankah cinta itu seharusnya indah? Lalu mengapa ada perpisahan dengan kekasih tercinta? Apakah ini berarti cinta menyiksa? Lalu, mengapa tak jera orang-orang mengejar cinta?

Saturday, April 18, 2009

so.. now i realize!

Posted by nandasani at 9:21 PM 0 comments
tadi baca2 tulisan jadul saya skitar taun 2006. lalu, menyadarii sesuatu..




betapa tulus rasa sayang saya buat si mantan, dan betapa dia menyakiti saya..



but, i've finished it all.

CASE CLOSED!

Thursday, April 16, 2009

cerita siang hari di kancil hari senin

Posted by nandasani at 7:29 PM 3 comments
Minggu lalu, gw, achie dan dian bolos salah satu mata kuliah paling yahud di semester empat, bobot 3 sks dan jatah 4 kali bolos belum sekalipun terpakai. PARAH!! Hehehe. Lalu, datanglah salah satu mahasiswa S2 Intervensi Sosial yang tidak perlu disebutkan namanya, *silahkan tebak saja sendiri… klo di TTS akan dapat pertanyaan, lima huruf, depannya D, huruf ketiga X, makhluk slengean yang ternyata otaknya cemerlang. Dan akhirnya gw sempet ngobrol ama tiga dari empat teman terbaik gw di Psikologi UI, (kebetulan yang satu udah kebanyakan absent karena sakit) jadilah kami hanya duduk manis berempat di salah satu meja di kantin yang terletak di fakultas kami. Awalnya, obrolan hanya berupa obrolan sampah yang gak ada artinya, bahkan ga diproses sama STM! Klo menurut salah satu teori IPT tentang attention, pembicaraan itu termasuk ke dalam bentuk attenuation model, yaitu semua informasi di terima oleh sensorimemori, tetapi yang tidak relevan akan dihapus. Yah, obrolan sampah dan tidak penting itu membawa kami ke pembicaraan yang semakin lama semakin berbobot (jarang loh kami punya pembicaraan yang berkualitas tinggi seperti kemarin. hehehe).

Awalnya, tema berat kami adalah bagaimana caranya menghadapi perubahan sikap yang drastis dari salah satu sahabat kami (yang gak ikut nongkrong itu). dia jadi lebih pemurung dan gak nyambung klo diajak ngomong, diajak becanda juga gak responsive. Dia punya masalah yang cukup berat dan kami tau masalahnya apa, sayangnya… beberapa bulan ini dia benar2 berubah dan kami kehilangan dia…ditambah lagi kondisi fisik yang lagi buruk, dia harus mengkonsumsi obat-obatan, yang menurut asumsi si tokoh dari TTS tadi mempengaruhi kerja otaknya, makanya dia jadi agak linglung. OK! Asumsi pertama diterima. Tapi, kami masih agak menyayangkan kenapa dia gak memilih kami sebagai tempat dia bersandar… kami kan sahabatnya. lalu, si tokoh bijak berinisial D tadi, berkata.. “coba deh lo fokus sama positifnya dia… bukan terhadap perubahan negatifnya”. Walau pada akhirnya, kami bisa mencoba menerka alasan yang paling memungkinkan kenapa dia bertindak seperti itu… jangan khawatir, kami akan membicarakannya… kami kan sayang dia…

Selesai pembicaraan tentang dia, akhirnya kami membahas sisi positif dari rival gw dan achie. Tokoh yang gw pilih sebagai rival, tidak lain dan tidak bukan adalah kekasih dari si mantan kekasih (selanjutnya dipanggil KDSMK) yang sensi abis2an ama gw. Jujur aja, gw sudah sangat merasa dendam kesumat ama ini makhluk satu. Namanya dendam, pasti yang keliatan cuma sisi negatifnya aja. Bahkan, sampai judging dia buruk sekali hampir gak ada baiknya. Oke. Untuk memikirkan SATU kata sifat positif yang menggambarkan dirinya, gw butuh beberapa saat baru akhirnya tersuarakan. “pintar! Denger-denger dia lulus hampir cum laude”. Oke. “tapi, sampe sekarang dia gak keterima kerja dimana-mana” (excuse no.1). “selera pakaiannya oke juga, waktu itu pernah ditunjukkin sepatu yang dia suka… yea, I love that”. Oke. “tapi kalo dia yang pake jadinya biasa aja” (excuse no.2). “tajir sih”. Oke. Yang ini gak pake tapi. Udah. Dan gw hanya berhenti sampai hal ketiga tersebut. Sumpah. Susah abis mikirin apa lagi yang baik dari dia. eh, ada satu lagi... tapi sepertinya gw menggunakan term yang salah untuk menggambarkannya, kata-kata gw adalah “dia pintar ngejilat keluarganya”, menurut Inisial D, term “menjilat” itu konotasinya sudah negatif, jadi gak appropriate klo dipake untuk sebuah puijan, padahal maksud gw adalah... KDSMK bisa bikin keluarganya jatuh cinta ama dia. Oke, sampai akhirnya Inisial D bilang “dan yang terbaik dia sayang sama *beep*”. Spontan, gw melancarkan defense or offense (gw gatau ini akan dikategorikan yang mana), “emang gw engga???” (oops. I’ve just spoken out what I’ve been repressed for the coupletimes). Jujur aja, saat itu gw langsung nyesek. Ya, dia sayang sama *beep* loh. Harusnya gw seneng dong yah dengan hal itu… tapi gw malah agak kesal mendengarnya. Inisial D bilang sama gw *dan achie*, bahwa… gw bisa menyebutkan kebaikan orang itu, tetapi semua dikasih tapi. Selalu ada denial, selalu ada excuse yang menjadikan diri sendiri lebih baik. Haduh. Iya yah? Setelah pembicaraan itu selesai, gw jadi mikir… ya, semua orang memang punya kelebihan… and she has things I don’t. gw pun gak sempurna… gw gak luput dari kekurangan dan masih harus sangat banyak belajar dari kesalahan

Agak di sangkut paut aja sih sama filosofi hidup dari instruktur yoga gw... the wisest person i ever met... dia punya prinsip 6K dan SSP. 6K is for Kasih, Kesabaran, Ketabahan, Kejujuran, Keikhlasan, dan Keuletan, serta tambahan Senyum Santai Pasrah. Klo dibicarakan dalam konteks ini, mungkin gw harus mulai memenuhi hati gw dengan kasih yang udah dikaruniai oleh sang pencipta, kita diajarkan untuk mengasihi sesama, bukan? Yah, sampai hari ini memang masih agak sulit mengasihi makhluk Tuhan yang satu itu, gak tau juga yah... mungkin karena dulu gw pernah mencoba untuk melakukannya, tapi dia sendiri yang membuat gw kecewa, dengan justru memberikan respon sebaliknya. Gw juga harus tabah, sabar dan ikhlas menerima keadaan yang ternyata jauh banget dari harapan gw sebelumnya, bahwa sebenernya gw udah sangat berjuang mempertahankan dia selama empat tahun. Empat tahun yang getir. Entah dominasi pahit atau manis, yang jelas duaduanya menjadi sangat rancu jika perpaduannya tidak tepat. Gw harus sabar menghadapi cacimaki salah satu anggota keluarganya, yang mengingat lagi kata-kata guru gw, bahwa saat kita disakiti oleh orang lain, jangan dendam... jangan pernah menyumpah, karena apa yang disumpahkan kepada mereka akan terjadi. Dendam gak pernah ada obatnya, saat orang melukai hati kita, diam... berdoa... dan bersabarlah. Gw harus jujur juga mengakui bahwa mereka bahagia bersama, jujur mengakui kelebihan yang KDSMK punya tanpa harus melakukan any denial lagi. Mungkin yang sebaiknya gw lakukan adalah tetap ulet meraih apa yang gw cita-citakan sehingga gw akan mendapatkan yang terbaik dalam hidup gw, diiringi dengan senyum, santai dan pasrahkan hasilnya pada YMK.
Pwifft... banyak sekali gw belajar akhir-akhir ini. terima kasih teman...

Monday, April 13, 2009

dear husbie :p

Posted by nandasani at 11:41 AM 0 comments
pfft..

u make me happy
:D

Thank you so much..

Wednesday, April 8, 2009

amarah

Posted by nandasani at 8:21 PM 2 comments
sial.
aku terjebak dalam permainanku sendiri.
knapa coba hati harus ikut2 terlibat. bikin aku smakin saja pening kepala.

seharusnya dia yang meronta-ronta. bukan jadi aku yang mengiba-ngiba.
ronta cinta. ibaku kembali. bukan malah tidak peduli. dan aku patah hati.

BRENGSEK.

*7april09.20:23*

Thursday, April 2, 2009

ucapan terima kasih untuk segenap sahabat terbaik sepanjang masa

Posted by nandasani at 12:26 AM 5 comments
kemarin, gue ama dian melakukan rencana yg kmi susun jauh2 hari (tanpa tau siapa targetnya), yaitu merubah status relationship di fesbuk pas april mop.. akhirnya, ksampean lah tuu plan.. dian ma andra, gue ma matin. ternyata.. tanggapannya cukup heboh, buat dian & andra : SUPER HEBOH! yaiyalah.. scara yang ngantri buat dian udah kaya antrian sembako! hheheh.

sehari ini gw jg mendapat beberapa 'adeuh' atau skadar ucapan selamat dari beberapa orang (yang kemudian gw menjadi merasa bersalah telah berbohong ama kalian. hehe). efeknya ga seheboh dian ma andra, tapi tetep aja.. berbohong itu cape! heheh.. but, still thanks buat papah matin yang mau diajak seseruan sehari ama gue.. hehe.

well then, gue yang sekarang sedang sangat terfokus pada goal2 yang harus gue raih. gue lagi agak menomor-sekiankan urusan hubungan romantis. gue masih sangat bisa bersenang2 sama temen2 gue.. kaya hari ini, gw bersenang2 sama 6 orang sobat2 gue.. dian, chai, bagus, angie, kapyon & lady dalam rangka mrayakan bday bagus tgl 25 maret kmarin..

we went to PH in margo city. we were talking, joking, laughing, gossiping, doin silly things and having so damn much fun.

ngakak abis2an. ga berenti ketawa sjak awal duduk sampe turun mobil. padahal cuma gara2 kata "tet tot tet tot" . meaningless . tapi, sesuai ama kuliah bermain tadi.. bahwa jokes pada adolescence yang biasanya bersifat inside joke, digunakan untuk mempererat hubungan sosial. yippie, dengan banyak jokes yg tadi keluar (dan sbenernya ga lucu2 amat buat outsider), kmi jadi banyak tertawa dan smakin merasa dekat. iya ga? (awas ya dijawab pake "tet tot tet tot" hehe)

dan ini membuat gue lagi2 smakin sadar arti pertemanan, persahabatan yang berkorelasi positif dengan tingkat kebahagiaan, dan signifikan pada los 0,01 (ngie, maap.. gw tau ini makanan lo, bagi dikit aja yah?)

makasii banyak ya temen2.. sumpah deh, u're all i need all the time. gattau gimana jadinya klo ga ada kalian..

ztu. haa.. gattau mau nulis yg mana. kmu slalu ada anytime buat aku, ztu.. lagi susah, lagi seneng. sayaaaaangg banget ama tutu..

dian, yg bisa gue telpon jam stgah 12 malem buat cerita sambil nangis2 gara2 patah hati ama gaga (dan dian ga bisa ngerti crita gue). dian yg harus ngebohong bilang kasurnya jebol cuma buat bikin gue ketawa, karena feelingnya bilang gue lagi knapa2 (and, yes i wasnt ok that time). dian yang tiba2 nongol depan pager kosan gue, pas gue bilang gue tiba2 badmood. Huaaah.. ga slese2 kalo gue crita satu2 apa yang udah ni camen kasih buat gue.. LOVE YOU!

Icha. si ocd yang slalu jadi normalisator antara gue dan dian yg slalu bertingkah aneh, icha yang slalu siap kapan aja gue curhatin ttg fams stuff (berujung mellow2an), icha yg jadi penengah waktu gue ama dian perang dingin. hihii. icha yang ngbagiin makanan, ngenalin teh cina, bawain tolak angin pas gue sakit.. haah.. sooo many things i couldnt tell here.. LOVE YOU! cepet sembuuuh ya sayaaang..

Achie, walau tadi ga ngikut gila2an di PH.. achie, si HSO yang akhirnya mengembangkan kemampuan imajinasi gue. hehehe. yg tetep setia denger gue tantrum, yg jd tempat displacement aggression gue, yg ulang taunnya sama ama gue, yg dengan murah hatinya minjemin gue laptop, yg slalu dgn sgenap keibuannya denger dan menanggapi crita2 gue, walo gw kena repeated syndrome. LOVE YOU!

bagus.. wah, si cowo sabar & perhatian.. idola para wanita.. yg mau nganterin gue dkk kmana2, yg bantu field metpenstat 2 ke galan, yg ga pernah pelit laptopnya digilir ama cewe2.. hhehe. thanks yh, Gus! udah lama lo gak ke kosan gw ama rian! huhu..

Angie. si jago metpen. si tukang proyeksi (ngakunya dinodai gw ama achie, padahal dia yg merangsang kmi. haha). thanks banget sering ngajarin kmi2 yang kadang suka aga dodol. gue sii terutama.. NG yg juga jadi seksi konsumsi pas kumpul2. cintakmu, ngie..

Kapyon. hahaha. satu yang gak akan gue lupa jasa lo terhadap gue. kelas bermain. dmana lo ikutan panik pas katanya klompok gue presentasi & blom bikin power point. ni anak ikutan sibuk, dan dengan murah hati dy mengizinkan klompok gue ngopi template pwr pnt dia.. muaaach kapyon!

Lady. hmm.. si teman berkestari ria. hahah. pengalaman menakjubkan yg gak pengen gue ulang lagi. heheh.. si partner KK chai.. yg kayanya sama aja ama si chai.. hehehe.

Dan buat semuuaaa sobat, teman, sahabat gue.. gak sanggup gue tulis satu2 jasa kalian ke gue.. BANYAAAAAAAAKKK buangeedd.. dan jujur, gue udah pegel.. karena gue ngetik di hp dan ini udah 30part text msg. hahaa. aku sayang kalian.

makasiih 1000x.
-eoc-
end of confession
 

Corat-Coret si Caberawid Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal