Thursday, November 20, 2014

Indonesia Tanah Airku

Posted by nandasani at 10:44 PM 0 comments
Judulnya nasionalis banget ya?
Hahaha padahal isi postingan ini gak bahas apapun tentang nasionalisme nih.. :p

Trus?

Jadi, sekarang gue lagi di Samarinda, ini lagi ngetik postingan ini sambil ngantuk-ngantuk.. tapi rasanya ga afdol kalau gak ngeblognya dari Samarindanya. Nah, perjalanan gue ke Samarinda ini menjadikan gue resmi pernah menginjakkan kaki di semua pulau terbesar di Indonesia. MENGINJAKKAN KAKI lho ya, bukan visit hahaha..

Untuk pulau Jawa, jelaslah karena gue emang tinggal di Depok, Bogor, kerja di Jakarta, ketiga kota itu ada di pulau Jawa, hanya memang gue belum pernah ke Jawa Timur. Tapi, tetep yak gue udah "nginjek" P. Jawa :p

Next, gue ke Papua, waktu lagi dikirim ke Kuala Kencana, meskipun cuma beredar di sekitar Timika & Kuala Kencana, tapi gue udah resmi nginjekin tanah dan bebatuan serta mandi dan minum air di Papua sono. Nah, waktu ke Papua ini, pesawat gue kan transit satu jam tuh di Makassar, maka gue pun "nginjek" tanah P, Sulawesi (maksa banget emang yang satu ini hahahaha)

Satu bulan yang lalu, gue dan keluarga melakukan family trip ke Sumatera Barat, jalan-jalan di Padang Panjang, Bukittinggi, dan Batu Sangkar, serta tentunya Kota Padang tercintanya si Bey. Maka, Sumatera? Contreng!

Nah, kembali ke Samarinda inilah maka resmi pula gue menginjakkan kaki gue di Pulau Kalimantan. dan khusus Samarinda, gue bener-bener kasih jempol buat Islamic Centernya.. kaya di Turkey, meeeennn.. cakeeepp beneeeerrr... satu lagi, makanan disini SUMPAH ENAK-ENAK BANGEEETT WOOYYY!! Lamaan dikit, bisa deh gue menggemuk hahha..

Gue seneng banget, selama kerja di SSB, gue dapat kesempatan buat lihat-lihat Indonesia, meskipun belum keliling karena masih ada buanyaaaakk banget tempat yang gue ga datengin, tapi gue bahagia banget setidaknya ya itu, gue udah pernah "mampir" di semua pulau terbesar negara tercinta ini.

Semoga, suatu hari nanti, gue akan kembali ke tempat-tempat eksotis di pulau-pulau besar ini.

Semoga.....

Thursday, September 11, 2014

Back then.

Posted by nandasani at 11:23 PM 0 comments

Tiba-tiba malem ini ngobrolin dia lagi sama ifka. Trus sadar, how stupid i was back then. Percaya aja digombalin, seneng aja dihujani kata-kata sayang.. till then, i realized. I was fooled.

Hehe. Marahnya sudah habis. Hanya baru tersadar aja bahwa ternyata cinta bener-bener bisa membutakan..

Semoga seseorang yang bersama gue saat ini bukan semata-mata karena cinta buta. Tetapi justru meluaskan pengetahuan, memberikan pembelajaran, dan meningkatkan kebijaksanaan.

Dewasa itu bukan usia.
Dewasa itu bijaksana.

Friday, July 4, 2014

"percayalah, paham mana pun yang lo anut, semua terjadi untuk sebuah alasan yang baik"

Posted by nandasani at 11:23 AM 0 comments
Judulnya asik.
Hehehehe.

bey,
mungkin ini jadi salah satu ungkapan yang harus kita putar berulang kali sampai maknanya benar-benar kita resapi ya.

alasan.
alasan.
alasan.
dan alasan itu baik.

kamu disana, aku disini.
atau, ketika kamu memutuskan untuk sama-sama kembali.
kamu disini, aku pun disini.

apapun keputusan kamu,
jadikan alasanmu sesuatu yang baik, ya sayang,

karena kamu orang baik.

iloveyou.

Ada sesuatu yang harus disampaikan.

Posted by nandasani at 7:47 AM 0 comments
Hey,
Aku tahu kamu sudah memaksaku untuk menjawab sore-mu. Maaf ya, Senjanya belum siap menyapa sore yang begitu lembut darimu.

Hey,
Kamu tahu tidak? Aku tiba-tiba saja membuka halaman ini dan jari-jariku menekan tombol-tombol abjad diatas keyboard hitamku.

"Ada sesuatu yang harus disampaikan"

Akupun sesungguhnya tak tahu pasti apa yang aku tuliskan.
Rasa di dalam hatiku ini begitu campur aduk. Mungkin kamu juga demikian.
Ada rasa bahagia, haru, tegang, dan sakit (karena gigiku yang sedang tak bersahabat).

Tapi aku merasa ada sesuatu yang harus disampaikan.



Aku ingat.
Dua tahun lalu, di bulan September.
Seseorang di depanku bercerita bahwa dirinya tak tahu apa yang dilakukannya. Apa yang dijalankannya. Mengapa ia memilih berada disana. Ia merasa ia kembali di titik nol. Merasa bukan siapa-siapa. Padahal, sebelumnya dia sedang menuju puncak dalam karirnya.

Ia menangis sebab ia tak tahu bagaimana ia akan menjalankan peran barunya. Ia menangis sebab ia khawatir, apabila ia salah mengambil keputusan.

Ia meragukan dirinya. saat itu.

Aku ingat.
Di beberapa bulan berikutnya, ia pun bercerita bahwa ia masih belum tahu apa yang dia inginkan.
Apa yang dia tuju dari perjalanan barunya. Tantangan di awalnya pun tak mudah.

Tapi, aku yakin dia akan berhasil.
Karena dia adalah satu sosok yang selalu aku kagumi. Sosok kontemplatif yang selalu mencoba mengambil makna dari setiap langkah, setiap akibat dalam hidupnya.

.

Dia berjalan bukan tanpa batu hambatan.
Dia melangkah bukan tanpa rintangan.

Tapi, dengan begitulah dia belajar banyak tentang kehidupan.

.

Pagi ini,
dia bilang dia akan mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan selama 3 bulan.
dia bilang dia belum pantas disandangkan dengan gelar yang akan didapatkannya dalam 3 bulan kedepan.
dia bilang dia harus membuktikannya kepada masyarakat, bahwa dia pantas berdiri dan bergerak dengan gelar itu.

Aku bilang,
Dia sudah berada disana. sudah melakukan apa yang akan dilakukannya lagi di waktu mendatang.
dia sudah membuktikannya.

Buatku,
sejak aku mengenalnya.

-

04 Juli 2014.
Goodluck, Nabila Dian Nirmala.
Semoga kamu menjadi lilin penerang bagi mereka yang sedang terseok dalam kegelapan.

Thursday, March 13, 2014

Suratku untuk Seorang Ibu

Posted by nandasani at 3:06 PM 1 comments
Hanya catatan saja.
Mungkin belaka, mungkin juga nyata adanya.

----

Teruntuk seorang Ibu di belahan pulau lain,

Selamat pagi Ibu, bergetar jemariku menuliskan rangkaian kata yang membuncah tak sabar ingin kuungkapkan kepadamu. Tetapi, tak sopan bila aku tak perkenalkan diriku terlebih dahulu. Aku adalah seorang perempuan, yang katamu modern, yang hidup di zaman yang asing, tak kenal nilai dan budaya seperti yang kau tahu. Mungkin seringkali kau mengelus dadamu, mengetahui bahwa di dunia ini, ada pula manusia-manusia yang tak sejalan dengan pola pikirmu, tentang dunia, tentang Tuhan, tentang keyakinan, dan tentang makna hati dalam bercinta. Manusia-manusia yang tidak kau mengerti.

Aku adalah salah satunya, perempuan dengan cara bersolek yang kau dan adatmu anggap tak seronok, tak pantas untuk disandingkan di pelaminan dengan keturunanmu sampai nomor berapapun, seorang perempuan yang tak dimengerti bagaimana bisa merendahkan martabatnya, yang disentuh tubuhnya oleh yang bukan menjadi mukhrimnya, bukan pasangan yang meng-ijab qabul-nya, dan tak pedulinya pula apabila ada satu dua orang lawan jenis yang menggenggam lengannya, mengecup pipinya, sebagai tanda persahabatan. Dirimu tidak mengerti, bagaimana hal ini menjadi lazim, bagaimana mungkin seorang bisa bergaul dan bergumul tanpa batas-batas yang kau anggap sebagai nilai kesopanan.

Ibu, besar sungguh jasamu, surga pula balasanmu telah membesarkan keturunan-keturunan yang baik budinya, pekertinya, agamanya, dan terpujilah dirimu karena selalu menundukkan kepalamu di sajadah bermesra dengan dzat Sang Pencipta. Ibu, maafkan perempuan ini yang telah merusak mimpi dan harapanmu, mimpi tentang masa depan dari anak-anakmu. Aku mencintai anak tengahmu, lelaki yang kau timang dahulu, kau nyanyikan dengan ayat-ayat suci dari kitab yang tak pernah lekang dari genggamanmu, kini kunyanyikan dengan musik-musik anak muda, dengan syair-syair penuh kata cinta. Bermesra dengan nafsu dunia, bukan kesucian surga. Bukan sepertimu.

Ibu, aku pun paham kau tak enak tidur, tak enak makan, tahu bahwa darah dagingmu bergaul dengan perempuan macam itu. Perempuan yang kau sebut dalam doamu untuk tak pernah dekat-dekat dengan tali persaudaraan, apalagi jadi menantumu kelak. Hampir tersedak kau dalam nafasmu ketika kau lihat perempuan itu melekatkan kepalanya di pundak anak lelakimu. Berdekatan seolah milik merekalah dunia yang luas ini. Sedangkan, Lelaki itu adalah satu-satunya pengharapanmu yang membawakan dirimu seorang perempuan yang pantas untuk dipinangnya menjadi anakmu yang tak sedarah. Yang akan kau banggakan di hadapan para kerabat, perempuan shalihah, berhijab, menutup aurat, dan berperangai surga di hidupnya yang fana. Yang memberikan cucu, cicit, yang pantas, yang senilai, yang sesuai. Yang tak memalukan.

Ibu, maafkan perempuan yang tak pernah mengerti hidupmu, yang tak acuhkan betapa kecewa dan kekhawatiran dalam batinmu. Kau takut melihat dunia yang berbeda, yang tak pernah kau sentuh, dan mungkin memang tak pernah ingin kau sentuh. Tabu, katamu. Tapi itulah perempuan yang mencintai anakmu. Yang memberikan kasihnya tanpa harap balas dan tak pernah lepas senyumnya jika sedang bercinta, bertukar kata mesra, bergombal ria selayaknya anak muda kasmaran. Atau menangis sejadi-jadinya, ketika patah hatinya mendengar kau tak pernah menerimanya, membiarkan perempuan itu tersedu dan membasahi kain-kain putih di tempat tidurnya.

Ibu, aku, si perempuan itu tahu betul kau takut anakmu tak bahagia, karena aku yakin, ibu dan bapakku juga begitu. Ibu dan bapakku ingin gadis kesayangannya diberikan tempat yang nyaman kelak ketika ia sudah bersuami, mungkin meskipun entah kemana dibawanya pula satu-satunya berlian yang mereka timang dengan kasih dan sayang tak ternilai. Mungkin tak lagi ada di jejak tanah yang mereka injak, tak lagi ia bernafas di ruang udara yang sama, tak lagi mereka melihat matahari terbit di waktunya yang bersamaan. Tetapi, itulah ibu dan bapakku, yang mampu menerima tegar permatanya di bawa pergi, dipelihara oleh pasangannya, nanti. Asalkan tahu bahwa bahagia lah ia bersama lelaki itu nantinya.

Ibu, bisakah ibu seperti itu?
Bisakah ibu terima perempuan itu, karena sumpah mati aku lihat bola mata anak lelakimu menyiratkan kasih yang begitu tulus di hadapanku. Dan tak pernah pula ia akan melupakan dimana surganya terletak, di bawah kakimu yang tak pernah meminta balas jasa meskipun Sembilan bulan kaki itu menjejak lebih berat, tak lupa pula ia bahwa engkau bertahun rela terpejam tanpa lelap karena tangis lapar hausnya membangunkan tidurmu.

Maaf ibu,
Bukan amarah daripada surat ini aku tuliskan, hanya saja.. tak lagi sanggup aku berdiam.
Aku memang tidak sempurna, bukan perempuan dambaan. tetapi, bukankah kita ini manusia yang katanya paling sempurna, namun tak punya daya menyempurnakan sesuatu yang dibuatnya? Dan meskipun dalam kadar yang tak sempurna, perempuan ini punya kasih sayang. Ganjil dan naïf sekali ya atas nama cinta itu, ibu.

Naïf sekali diriku.
Yang terkata modern ini masih cukup mengagungkan cinta.

Ibu,
Demi cintamu kepada lelaki kedua dalam hidupmu,
Mohon berikan izinmu agar aku bisa menjaga dia selama dirinya bernafas.
Jangan kau merasa takut akan sesuatu yang adanya di masa yang tak pasti datang.
Jangan kau takut, lelakimu akan hilang. 

Salam,


Perempuan modern.

Wednesday, November 20, 2013

Alhamdulillah

Posted by nandasani at 10:20 PM 0 comments

I am so happy to have you :)
Thank you..

I'll do my best, please give me courage and be by my side.

Next,
Let the One lead the way :)

Iloveyou

Thursday, November 7, 2013

UPDATE : Review Salon #2

Posted by nandasani at 9:22 AM 0 comments
OKE!
Setelah gue menuliskan review salon jilid 1 yang bisa dijumpai disini, gue mau meng-update reviewnya lagi tentang beberapa salon.

1. GRIA INAN

Kayanya gue juga pernah menjanjikan ya mau nulis review salon ini kalo udah nyoba. Akhirnya, setelah cukup lama sering lewat dan ngintipin salon yang keliatan mewah ini, gue pun mencoba perawatannya di bulan Juni kemarin. Seinget gue dulu mereka pasang spanduk yang bertuliskan beberapa paket perawatan seharga Rp 70.000, isi paketnya juga lumayan beragam mulai dari lulur, massage, facial, creambath, dan mani pedi. Tapi, gue agak telat kali ya.. karena pas gue dateng kesana sama calon adek ipar gue, spanduk itu udah dilepas. Bayangan gue untuk menikmati satu hari penuh dengan harga murah hilang sudah....

Namun, niat memanjakan diri di salon sudah begitu kuat, maka gue dan dia pun melangkahkan kaki masuk ke bangunan yang terlihat seperti rumah-rumah di kawasan elite Jakarta. Tempatnya bersih, bagus, atmospherenya juga pas masuk itu enak...

Secara fisik salonnya, beneran keliatan ekslusif dan bagus banget... lalu gue pun membuka "buku menu" perawatan. Harganya bisa dibilang standar seperti Rengganis. Gak murah, tapi juga gak mahal-mahal banget. Gue memilih perawatan lulur. Seperti pada salon-salon lainnya, di Inan ini SOP luluran kurang lebih sama yaitu di massage, di lulur, dan mandi. Harga perawatan ini waktu bulan Juni 2013 kemarin adalah Rp 95000.

Ekspektasi gue yang teralu tinggi mungkin ya...
gue kecewa dengan perawatan yang gue ambil hahaha. Pertama, karena gue dateng sama adeknya si pacar, maka perawatan kami sebelahan dong. Nah, ruangannya itu berisi 3 kasur tanpa sekat. Agak ganggu sih menurut gue.. dan yang paling ngeselin adalah mbak-mbaknya ngobrol sampai ketawa-ketawa gitu, bukan bikin gue relax, yang ada gue keki juga mau tidur-tiduran sambil pijetan eh malah dapet keberisikan si mbak-mbaknya.
Lulurnya juga agak kasar sih, agak jauh deh diluar ekspektasi gue. :(

Overall, secara pribadi sih gue ga rekomen salon ini buat cari relax..
tapi klo menurut temen gue, untuk potong rambut mereka cukup berani dan recommended, while.. gue nanti aja deh coba-cobanya :))


2. Rengganis (lagi) - Perawatan lulur tradisional

Nah, ceritanya ini baru kemarin banget gue nyoba luluran di Rengganis. As usual sih, buat gue salon ini belum pernah mengecewakan gue atas berbagai perawatannya. LOL. Btw, sekarang salon ini semakin ramai, Senin kemarin itu pas hari kejepit, gue telepon mereka jam 9, dan gue baru bisa book perawatan jam 1 siang -__-"

Dari segi harga, sekarang rengganis udah agak mahal... untuk luluran kemarin itu gue harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 120.000 (plus tip buat capsternya se-ikhlasnya...). Seperti yang tadi gue udah bilang, bahwa yang namanya luluran itu, SOPnya hampir serupa... durasi pengerjaannya sekitar 2,5-3 jam. Jadi, pastikan punya waktu yang cukup dan perut kenyang.

Prosesnya itu dimulai dari massage kaki, massage punggung, leher dan massage tangan, trus lanjut ke depan, massage di sekitar perut dada, dan pundak. Abis itu kita di lulur deh, lulurnya sendiri sih sebenernya pake produk biasa (gue nebak-nebak itu purbasari bengkoang, wanginya khas banget...), beres di lulur sampai bersih (sekitar 40 menit), kita di ajak ke sauna box (10-15 menit), dibikin keringetan biar luntur deh tuh daki-dakinya, dan mandi pake air hangat. Semuanya bersih, semuanya enak. Beres mandi diolesin lagi pake body lotion dan dikasih jahe hangat <3 p="">
Ya, buat yang gemes banget mau nyoba rengganis, mudah-mudahan gak akan nyesel yaa..
(harusnya gue dapet komisi nih ya dari salonnya hahahhaha..)

Yowis, udahan dulu ya..
udah dilirik-lirik kubikel sebelah nih hahhaha.
 

Corat-Coret si Caberawid Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal